> chocolate: Maret 2012

Selasa, 20 Maret 2012

terbang


Aku adalah elang, makhluk kesepian pengembara gurun-gurun asing, tertempa teriknya mentari dan keringnya badai-badai pasir. Aku bangga untuk melihat bahwa elang adalah burung pemberani, tetapi juga sedih karena elang mengelanai langit seorang diri. Aku terbang di atas gurun selalu seorang diri. Letih dan lapar, kesepian dan tersesat mencari jalan pulang, yang entah mengapa selalu bermuara ‘kepadanya’..
Aku sudah tidak mungkin kehilangan dia. Karena aku memang sudah benar-benar tidak mampu memiliki hatinya..
Pernah ku lihat sebaris kata “Pilihlah mimpmu, dan hidup akan lebih layak untuk dijalani”. Namun aku bukanlah wanita pemilih mimpi. Akulah yang selalu dipilih oleh mimpi. Dan aku tidak mampu terbangun darinya. Bila kenyataan tak pasangi harap di hati, tak ada yang lebih indah daripada hidup dalam mimpi. Menurutku, kebahagiaan hanyalah kesedihan yang salah tempat. Dan pertemuan adalah perpisahan yang salah tempat..

Selalu ada sesuatu (mungkin seperti kerinduan) merintih di dalam diriku, minta untuk dikeluarkan. Aku tidak tahu apa itu dan bagaimana mengeluarkannya. Aku tidak bisa menjelaskan perasaan itu, tetapi aku sudah hidup bersamanya bertahun-tahun. Ia ada di dalam diriku seperti tumor ganas yang bisa sewaktu-waktu meledak, menjalari seluruh tubuhku, dan membunuhku dari dalam. Kadang perasaan itu berbentuk kesepian, dan terkadang ia mengambil wujud keinginan untuk lenyap dari dunia ini. Kesedihan memenggal kewarasan lebih tajam dari apapun juga. Sungguh sulit untuk bertahan dengan luka menganga, tetapi aku pun tak mampu pergi mati tanpa dirinya. Tolong, ambil namamu dari hatiku !!

Aku memandangi diriku sendiri di cermin, dan melihat seorang anak perempuan menangis sedih sambil memukuli dadanya untuk mengeluarkan jantungnya supaya kesedihan itu tidak berlanjut lagi. Anak itu menangis semakin keras, serta memukuli dadanya semakin keras pula. Penuh kebencian, dan perasaan putus asa. Dibuang dan disisihkan, hina dan tidak dikehendaki. Ia lalu memutuskan untuk mengambil napasnya kembali.
Hhh,, tarik aku kembali ke dalam rahim bundaku. Disana, aku akan meronta melawan, setiap kali telingaku menangkap kabar bahwa aku akan dilahirkan kembali.

Aku terbang menyayat-nyayat angkasa, arungi langit tudung gurun. Namun tak juga ku temukan orang yang ku cari dan kehangatan yang ku buru. Jadi ku pikir, mungkin selamanya, aku hanya akan menjadi pengembara yang tersesat, lalu mati dibunuh harapan, layu mongering. Makin letih ku kepak-kepakkan sayap. Mungkin ini saatnya aku menyudahi perlawanan. Aku kehilangan jiwaku. Kepakan sayapku menandakan aku masih seekor elang. Namun aku makin lelah, lemah, kering, dan tersesat. Aku makin tidak mengenali diriku sendiri, dan arah mana yang akan ku tuju.
Manusia adalah pengelana. Mereka menyeret penjara jiwa mengembarai setiap gurun dengan nama. Mereka semua mati dibantai terik padang pasir, dan mampus ditikam dahaga. Kecuali sebagian yang masih memberanikan diri berharap akan mendapat sisa nyawa.
Pengelana tuna harapan. Bagai perjalanan lalui hutan bambu tanpa lentera. Pengelana miskin harapan. Bagai mentari merindu hidup di saat senja. Aku pengelana. Aku tak mau sekarat. Bersimpuh. Aku hanya meminta sepasang sayap, untuk bantu aku menaklukkan jagat raya.
Elang selalu terbang maju, tidak pernah mundur. Aku terbang menemani mentari setiap hari. Mentari yang meskipun telah tenggelam di saat senja, tetapi masih memiliki keberanian untuk terbit di saat fajar esok hari. Aku sangat yakin bahwa masa depan belum pernah terjebak di masa lalu..

Setiap sosoknya berkunjung ke dalam benakku, kesadaranku menggelepar tenggelam dalam perasaan, layaknya mentari yang sekarat, terbenam ditikam malam. Ia selalu hadir dalam benakku setiap hari, tidak mau pergi lagi. Dirinya ada di seberang sana. Dan aku tak mampu meraihnya. Bukankah itu yang membuatku tetap mencintainya? Motif-motif gila berkecamuk di dalam kepalaku. Aku tidak mampu menaklukkan mereka seperti aku gagal memadamkan cintaku kepadamu. Pedih bagiku mengambil jalan ini, dan sepertinya kau menolak untuk ku miliki.

Bila aku mampu berbicara kepada kedua belah sayap cinta, akan ku beritahu mereka, “aku selalu berdiri di satu tepimu, sedangkan dirinya berdiri di tepi lain dari sisimu. Di antara kami ada angkasa. Hatiku terhempas sejak aku melihat dia, namun jurang tak terseberangi, sehingga membuatku tak kuasa meraih dirinya”.
Bila kau menemukan cinta yang berserak, mati, dan mengering ditampar terik matahari,, pungutlah ia, lalu kembalikan padaku. Karena ulahmulah ia mati. Karena perbuatanmulah ia tidak ada lagi di sini. Ingin rasanya mengucapkan kata-kata ini dihadapannya. Namun aku tak akan melakukannya, karena aku tak akan menyesal pernah mencintainya dan aku tak akan pernah menyimpan dendam untuknya..